بيت الزكاة الإندونيسى
محافظة كلمنتان الشرقية
 

ZAKAT BARANG TAMBANG

Admin   11 Agustus 2017   Artikel   1345 kali dilihat

ZAKAT BARANG TAMBANG
Dalam masa sekarang ini banyak orang yang belum mengetahui bahwa manfaat zakat itu sangat besar untuk kehidupan sosial sesorang. Dan kebanyakan orang yang mampu atau memenuhi syarat kewajiban berzakat tidak mengetahui atau bahkan tidak faham bahwa sebenarnya ia memenuhi syarat sebagai seorang wajib zakat. Kebanyakan hanya mengetahui tentang zakat fitri saja yang rutin dilaksanakan menjelang idul fitri. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan akan zakat itu sendiri.
Pengertian Barang Tambang
Secara bahasa barang tambang (Ma’dan) berasal dari kata ya’danu, ‘adnan yaitu menetap pada suatu tempat, sedangkan menurut istilah adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam bumi dan mempunyai nilai padanya. Barang tambang di sini bisa berupa emas, perak, besi, minyak bumi, batu bara dan lain sebagainya. Adapun pengertian barang tambang menurut para ulama adalah sebagai berikut :
Menurut mazhab Hanafi barang tambang, rikaz dan harta terpendam adalah sama yaitu setiap harta yang terpendam/tersimpan di bawah bumi.
Menurut mazhab Maliki, barang tambang adalah harta yang diciptakan oleh Allah Subhanahuwa Ta’ala di dalam tanah, baik berupa emas, perak maupun lainnya, dan untuk mengeluarkan barang tambang diperlukan pekerjaan yang berat dan proses pembersihan yang terus menerus.
Menurut mazhab Syafi’i, barang tambang adalah harta yang dikeluarkan dari suatu tempat yang diciptakan Allah Subhanahuwa Ta’ala dan hanya khusus berkaitan dengan emas dan perak. Barang tambang lainnya tidak wajib dikeluarkan zakatnya.
Menurut mazhab Hambali, mengartikan barang tambang sebagai harta yang dikeluarkan dari dalam bumi yang diciptakan Allah Subhanahuwa Ta’ala, yang bukan dari jenis bumi itu sendiri, bukan pula harta yang sengaja dipendam yang berwujud padat maupun cair.
Menurut beberapa ulama terdapat tiga jenis kepemilikan barang tambang yaitu :
Barang tambang yang didapatkan dari tanah yang tidak dimiliki oleh seseorang. Harta itu dimiliki orang pemerintah, harta tersebut dibagikan kepdaa kaum muslimin atau disimpan dibaitul mal untuk kemaslahatan umat dan bukan untuk kepentingan pemerintah.
Barang tambang yang didapatkan dari tanah yang dimiliki oleh seseorang, harta ini dapat dimiliki pemerintah dan juga pemilik tanah.
Barang tambang yang didapatkan dari tanah yang dimiliki bukan oleh seseorang, misalnya tanah penaklukan, maka kepemilikannya oleh pemerintah.
Syarat dan Ketentuan Zakat Barang Tambang
Dalam setiap kewajiban yang dibebankan kepada umatnya, ajaran Islam selalu menetapkan standar umum, begitupun dalam penetapan barang tambang untuk menjadi sumber dan objek zakat maka terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Apabila hal tersebut tidak memenuhi salah satu ketentuan, maka harta tersebut belum menjadi sumber atau objek yaang wajib dizakati. Adapun persyaratan barang tambang menjadi sumber atau objek zakat adalah sebagai berikut :
Barang tambang tersebut harus didapatkan dengan cara yang baik dan halal. Artinya barang yang haram, baik substansi atau dzat bendanya maupun cara dalam mendapatkannya jelas tidak dapat dikenakan kewajiban zakat. Sebagaimana firmah Allah Subhanahuwa Ta’ala :
Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. Annisa : 29)
Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya. Dengan demikian zakat tidak diterima dari barang yang ghulul yaitu barang yang didapatkan dengan cara menipu, kecuali dari hasil usaha yang halal dan bersih.
Milik penuh, pada hakikatnya kepemilikan mutlak pada harta adalah milik Allah Subhanahuwa Ta’ala, akan tetapi Allah Subhanahuwa Ta’ala memberikan hak kepemilikan harta tersebut kepada manusia secara terbatas. Harta yang dimiiki manusia secara penuh maksudnya bahwa manusia ia berkuasa memiliki dan memanfaatkannya secara penuh. Artinya barang tersebut berada di bawah kontrol dan di dalam kekuasaan pemiliknya secara penuh, sehingga memungkinkan orang tersebut dapat menggunakan dan mengambil seluruh manfaat dari barang tersebut. Alasan penetapan syarat ini adalah penetapan kepemilikan yang jelas, sebagaimana dalam firman Allah :
Artinya : “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij : 24-25)
Alasan lain dikemukakan bahwa zakat itu pada hakikatnya adalah pemberian pemilikan kepada para mustahik dari para muzakki, adalah salah satu hal yang tidak mungkin apabila seorang muzakki memberikan kepemilikan kepada mustahik sementara dia sendiri bukanlah pemilik yang sebenarnya.
Tidak ditentukan haul, Ulama tabi’in dan fuqoha sepakat tentang ketentuan haul pada beberapa harta yang wajib dizakati seperti emas, perak, perdagangan, hewan dan lain sebagainya. Akan tetapi, ketentuan haul tidak berlaku pada zakat rikaz, barang tambang dan pertanian. Maka dalam hal ini, zakat barang tambang tidak terikat dengan haul, zakatnya harus dikeluarkan tepat pada saat mendapatkannya atau memetiknya jika mencapai nishab, seperti pada zakat pertanian. Sebagaimana firman Allah Subhanahuwa Ta’ala yang berbunyi :
Artinya : “Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am : 141)
Berbeda dengan sumber-sumber zakat perdagangan, peternakan, emas maupun perak yang ditentukan haul dalam kepemilikan harta tersebut. Sedangkan hasil tambang, zakatnya wajib dibayarkan ketika barang tersebt digali dan didapatkan. Mengingat bahwa haul disyaratkan untuk menjamin perkembangan harta, sedang dalam hal ini, perkembangan tersebut telah terjadi sekaligus.
Nishab Zakat Barang Tambang
Adapun hikmah dari adanya ketentuan nishab karena zakat merupakan kewajiban yang disyariatkan atas orang kaya kepada orang miskin dan sebagai upaya untuk kesejahteraan kaum muslimin. Oleh sebab itu, zakat haruslah daikeluarkan dari kekayaan yang memang mempu untuk memikiul tanggung jawab tersebut. Zakat hasil tambang tersebut wajib untuk segera dikeluarkan, tanpa menunggu berlalunya satu haul. Akan tetapi, dalam hal ini perhitungan nishab tetap disyariatkan, karena dalil-dalil mengenai persyaratan nishab tersebut bersifat umum.
Untuk barang tambang nishabnya sama dengan emas, perak dan harta perniagaan yaitu 20 mitsqal (20 dinar) atau 200 dirham yang padanannya sama dengan 85 gram emas atau 600 gram perak.
Bersambung....