بيت الزكاة الإندونيسى
محافظة كلمنتان الشرقية
 

KEKELIRUAN PERAYAAN TAHUN BARU

Admin   1 Januari 2018   Artikel   587 kali dilihat

KEKELIRUAN PERAYAAN TAHUN BARU

 

Tahun berganti tahun kita akan menyaksikan perayaan besar yang rutin dilakukan oleh masyarakat di seluruh dunia. Perayaan itu adalah perayaan tahun baru. Perayaan yang dibuat secara meriah dan tentu saja dengan biaya yang tidak murah. Malam pergantian tahun baru masehi sangat ditunggu-tunggu oleh semua kalangan. Pada kenyataannya, pada malam tahun baru dihiasi dengan berbagai hiburan yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Kaum muda-mudi tumpah ruah di jalanan, berkumpul di pusat kota menunggu pukul 00.00, yang seolah-olah dalam pandangan sebagian orang “sayang” untuk dilewatkan. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang meneriakkan “Selamat Tahun Baru.” Tidak saja dibelahan bumi lain seperti di Eropa dan Amerika, masyarakat kita juga sibuk dan sangat menanti-nantikan malam pergantian tahun tersebut.

 

Sebenarnya perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. 

 

SEJARAH TAHUN BARU

Kalender Romawi kuno menggunakan tanggal 1 Maret sebagai Hari Tahun Baru. Belakangan, orang Romawi Kuno menggunakan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun yang baru. Pada abad pertengahan, kebanyakan negara-negara Eropa menggunakan tanggal 25 Maret, hari raya umat Kristen yang disebut Hari Kenaikan Tuhan, sebagai awal tahun yang baru. Hingga tahun 1600, kebanyakan negara-negara barat telah menggunakan sistem penanggalan yang telah direvisi, yang disebut kalender Gregorian.

Kalender yang hingga kini digunakan itu menggunakan 1 Januari sebagai Hari Tahun Baru. Inggris dan Amerika Serikat ikut menggunakan sistem penanggalan tersebut pada tahun 1752. Kebanyakan orang memperingati tahun baru pada tanggal yang ditentukan oleh Agama mereka. Umat Islam menggunakan sistem penanggalan yang terdiri dari 354 hari setiap tahunnya. Karena itu, tahun baru masing-masing Agama jatuh pada tanggal yang berbeda-beda pada kalender Gregorian tiap tahunnya.

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Orang-orang Romawi mempersembahkan hadiah kepada kaisar, para kaisar lambat laun mewajibkan hadiah-hadiah seperti itu. Para pendeta ketlik memberikan potongan dahan mistletoe, yang dianggap suci, kepada umat mereka. Orang-orang ketlik mengambil banyak kebiasaan tahun baru orang-orang Romawi, yang menduduki kepulauan Inggris pada tahun 43 Masehi.

Seperti kita ketahui, tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka, yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa lemanja, dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil. 

Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Pada tanggal 1 Januari orang-orang Amerika mengunjungi sanak-saudara dan teman-teman atau nonton televisi: Parade Bunga Tournament of Roses sebelum lomba futbol Amerika Rose Bowl dilangsungkan di Kalifornia, atau Orange Bowl di Florida, Cotton Bowl di Texas, atau Sugar Bowl di Lousiana. Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang meneriakkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne. 

Di negara-negara lain seperti Indonesia, perayaan tahun baru tidak lah diidentikkan dengan ritual Agama tertentu. Di Indonesia khususnya, perayaan tahun baru dirayakan hanya sebatas pada momentum pergantian tahun dengan mengabaikan aspek spiritualitas agama tertentu di dalamnya. Momentum pergantian tahun biasanya dirayakan di semua negara dengan “ritual” perayaan yang hampir sama, yaitu dengan mengadakan keramaian, entah itu berupa konser musik atau hal-hal yang serupa dengannya, makan-makan, hingga perayaan dengan menggunakan kembang api. Perayan-perayaan tersebut merupakan perayaan umum yang sering dilakukan setiap negara, khususnya Indonesia disetiap moment pergantian tahun.

Tentu saja, perayaan yang setiap tahun dilaksanakan itu, menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Pengeluaran biaya untuk hal yang tidak memiliki manfaat apapun, maka ini adalah salah satu ciri pemborosan yang dilarang dalam ajaran agama Islam. Allah Ta’ala telah berfirman :

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)

 

Apa yang dimaksud dengan boros ?

Boros adalah suatu sikap yang sangat dilarang dalam Islam karena hal tersebut akan banyak menimbulkan tidak seimbangan keuangan seseorang muslim. Gaya hidup boros sering terlihat dalam masyarakat zaman sekarang. Walaupun sering terlihat pada orang mewah ekonominya, namun tidak sedikit boros juga terdapat pada orang ekonomi sedang atau bahkan ekonomi rendah penghasilannya. Boros adalah sifat kecenderungan pada manusia yang menggunakan hartanya secara tidak terencana tanpa memperhatikan orang sekitarnya.

Salah satu gejala yang dapat menimbulkan gejolak sosial adalah adanya sebagian orang dengan cenderung bertindak boros tanpa melihat kehidupan orang lain di sekitarnya. Penggunaan harta oleh pemiliknya yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan terjadinya kecemburuan-kecemburuan sosial, bahkan terkadang dapat menimbulkan gejolak-gejolak yang berkepanjangan.

Boros artinya berlebih-lebihan dalam pemakaian uang, barang, dan sebagainya, (memboroskan) memakai (mengeluarkan) uang barang dan sebagainya secara berlebih-lebihan, menghambur-hamburkan. Menurut Imam al-Mawardi, boros dan royal adalah sikap seseorang yang melampaui batas kemurahan hati, maka ia disebut royal dan boros dan layak dicela. Ibnu Katsir telah menukilkan beberapa pendapat ulama telah menafsirkan ayat ”Janganlah kamu menghamburkan harta secara boros”, Ia mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud mengatakan “Tabzir atau boros” adalah membelanjakan harta bukan untuk kebenaran. Hal tersebut dikemukakan juga oleh Ibnu Abbas. Sedangkan Mujahid berkata ”Jika manusia membelanjakan hartanya untuk kebenaran, maka hal itu bukanlah boros, tetapi jika ia membelanjakan bukan untuk kebenaran meskipun hanya satu mud maka ia adalah pemboros”. Sementara Qatadah berkata “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan”.

Islam mengharamkan berlebih-lebihan dan kemewahan karena bahaya kemewahan di bidang ekonomi dan sosial dalam hubungan dengan individu maupun dengan orang banyak adalah sama. Islam melarang kemewahan karena:

Kemewahan menyebabkan adanya sifat foya-foya.

Kemewahan menyebabkan semakin adanya jurang antara si kaya dan si miskin. Dari sini muncul dengki, dendam dan perpecahan yang membuka pintu lebar-lebar pertentangan antar golongan dalam masyarakat.

Kemewahan menyebabkan pengeluaran harta untuk hal yang tidak berguna.

Berdasarkan penjelasan di atas tergambar bahwa boros dapat terjadi pada semua orang dan tingkatan dalam berbagai bentuk dan coraknya. Ini memberikan indikasi bahwa pemborosan dapat dengan mudah terjadi dan dimana saja. Hal ini harus menjadi perhatian muslim agar dapat menghindarinya. Oleh karena itu dengan menganalisa dan menakar nas-nas tersebut, kiranya dapat digambarkan kriteria-kritetia boros secara sederhana. Adapun kriteria-kriterinya diuraikan berikut ini.

Bersikap konsumtif.

Membelanjakan sesuatu yang tidak disyariatkan.

Membeli barang mewah.

Berlebih-lebihan dalam pembelanjaan.

Tidak adanya keseimbangan.

“Dan Berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang ada dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghamburkan (hartamu) dengan boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya setan dan sesungguhnya setan itu sangat ingkar kepada tuhannya.” (QS Al Isra : 26-27)

Mengeluarkan harta untuk kepentingan sosial lebih baik ketimbang mengeluarkan harta tanpa memberi manfaat apapun terhadap sesama. Menghambur-hamburkan harta untuk merayakan perayaan tahun baru adalah sebuah kesia-siaan, sehingga termasuk dalam salah satu bentuk pemborosan yang sangat dilarang dalam Islam. Bagaimana mungkin seseorang malakukan pemborosan dalam membelanjakkan harta untuk hal yang sia-sia, akan tetapi, disekitarnya masih banyak orang yang kelaparan, hidup dalam kemelaratan dan kemiskinan ? ini merupakan salah satu bentuk ketimpangan sosial yang menjamur hingga sekarang ini.

Islam telah mengajarkan kita untuk memanfaatkan harta dengan sebaik-baiknya. Diantara hal-hal yang dianjurkan Islam dalam hal mengeluarkan harta ada dengan menunaikan Zakat, infaq maupun shodaqoh. adalah salah satu pemanfaatan harta yang sangat dianjurkan dalam Islam. Allah Swt berfirman :

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-Baqarah 2:195)

Allah Swt memerintahakan kita untuk membelanjakan harta di jalan Allah,  Imam al-Bukhari meriwayatkan, dari Hudzaifah, katanya, “Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan masalah infak.”

Zakat mempunyai beberapa arti, diantaranya : Pertama, An-Nama (tumbuh dan berkembang), artinya bahwa harta yang dikeluarkan zakat darinya, tidaklah akan berkurang, justru akan tumbuh dan berkembang lebih banyak. Faktanya sudah sangat banyak. Kedua,  Ath-Thaharah (suci), artinya bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya, akan menjadi bersih dan membersihkan jiwa yang memilikinya dari kotoran hasad, dengki dan bakhil. Ketiga,  Ash-Sholahu (baik), artinya bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya, akan menjadi baik dan zakat sendiri akan memperbaiki kwalitas harta tersebut dan memperbaiki amal yang memilikinya. Adapun zakat secara istilah adalah jenis harta tertentu yang pemiliknya diwajibkan untuk memberikannya kepada orang-orang tertentu dengan syarat-syarat tertentu juga.

Infaq dari akar kata : Nafaqa (Nun, Fa’, dan Qaf), yang mempunyai arti keluar. Dari akar kata inilah muncul istilah Nifaq-Munafiq, yang mempunyai arti orang yang keluar dari ajaran Islam. Kata (infaq), yang huruf akhirnya mestinya “Qaf”, oleh orang Indonesia dirubah menjadi huruf “ Kaf ”, sehingga menjadi (infak). Infaq secara istilah adalah Mengeluarkan sebagian harta untuk sesuatu kepentingan yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Sedangkan “Sedekah“  secara bahasa berasal dari akar kata (shodaqa) yang terdiri dari tiga huruf : Shod- dal- qaf, berarti sesuatu yang benar atau jujur. Kemudian orang Indonesia merubahnya menjadi Sedekah. Sedekah bisa diartikan mengeluarkan harta di jalan Allah, sebagai bukti kejujuran atau kebenaran iman seseorang.

Terdapat banyak sekali perbedaan seseorang yang membelanjakan hartanya untuk kegiatan maupun hal yang sia-sia, dengan seseorang yang membelanjakan hartanya untuk kebaikan. Allah Swt berfirman:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al Baqarah: 261)

Mempertahankan adat atau kebiasaan dalam merayakan pergantian tahun dengan menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak memberikan manfaat adalah kesia-siaan yang tertolak, baik dari konteks syari’at, maupun dari konteks sosial-ekonomi. (*abs/rif)